berita, tips kesehatan dan olahraga sehat

Breaking

Rabu, 31 Oktober 2018

Ibu Hamil Punya Anemia, Apakah Perlu Segera Terima Transfusi Darah?


Anemia merupakan galat satu masalah kesehatan yg seringkali dialami sang ibu hamil. Meski relatif umum, kurang darah tidak boleh disepelekan. Anemia pada bunda hamil trimester pertama dilaporkan dapat menaikkan risiko kelahiran prematur, berat badan bayi rendah waktu lahir (BBLR), sampai skor APGAR yg rendah.

Lantas, apakah memiliki kurang darah ketika hamil lantas menciptakan Anda niscaya perlu menerima donor darah supaya nir menyebabkan risiko-risiko pada atas?

Ibu hamil rentan kekurangan zat besi
Anemia dalam bunda hamil cenderung diakibatkan sang masalah kekurangan zat besi dari asupan makanan. Anemia ini disebut menggunakan kurang darah defisiensi zat besi.

Padahal, kebutuhan zat besi justru akan meningkat secara sedikit demi sedikit semasa kehamilan. Mulanya Anda hanya akan membutuhkan tambahan 0,8 mg zat besi per hari dalam trimester pertama, hingga 7,lima mg per hari dalam trimester ketiga.

Namun, zat besi menurut makanan saja nir akan bisa untuk memenuhi kebutuhan Anda semasa hamil. Itu kenapa bunda hamil membutuhkan suplemen zat besi tambahan.

Sepanjang masa kehamilan, bunda memerlukan tambahan asupan zat besi buat memastikan proses tumbuh kembang janin berjalan baik, serta memelihara kondisi plasenta permanen optimal. Mencukupi asupan zat besi menurut makanan juga obat penambah darah pula sekaligus buat menghindari risiko kehilangan banyak darah selama persalinan nanti.

Tanda dan gejala kurang darah dalam bunda hamil
Beda menggunakan kurang darah biasa, anemia pada ibu hamil cenderung ikut ditentukan sang perubahan hormon tubuh yang memengaruhi proses produksi sel-sel darah.

Wanita hamil umumnya mengalami peningkatan volume plasma darah sampai lebih kurang 50% dalam akhir trimester ke 2, sementara sel darah merah hanya bertambah lebih kurang 25-30 persen. Hal ini akan mengakibatkan penurunan kadar hemoglobin (Hb). Anemia itu sendiri terjadi ketika jumlah hemoglobin pada darah berkurang drastis.

Perubahan lain terkait produksi darah yang pula ditemukan dalam hampir 10% bunda hamil yang sehat adalah penurunan kadar trombosit (platelet) yg di bawah normal — jadi lebih kurang 150.000-400.000 /uL. Kondisi ini dianggap menggunakan trombositopenia.

Hal ini penting diketahui buat mencegah risiko mendapat transfusi darah yang tidak diperlukan dampak keliru mengartikan hasil pemeriksaan tes darah saat hamil.

Ibu hamil perlu cek kadar Hb rutin
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada Amerika Serikat, kurang darah pada bunda hamil didefinisikan sesuai menggunakan usia kehamilannya, yakni kadar Hb 11 gram/dL atau Hct <33% dalam trimester pertama & ketiga, & kadar Hb <10,5 g/dL atau Hct < 32% pada trimester kedua.

Sementara menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), secara umum seorang ibu hamil dikatakan memiliki anemia apabila kadar hemoglobin (Hb)-nya kurang dari 11 g/dL atau hematokrit (Hct) kurang dari 33 persen.

Mengingat risiko komplikasi anemia pada ibu dan bayi, itu kenapa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menganjurkan setiap ibu hamil mengikuti tes darah rutin (termasuk untuk periksa kadar Hb). Idealnya satu kali pada saat pemeriksaan antenatal pertama dan sekali lagi pada trimester ketiga.

Jadi, kapan ibu hamil perlu transfusi darah?
Anemia pada ibu hamil dikatakan masuk stadium berat dan perlu pertolongan medis segera ketika kadar Hb sudah kurang dari 7 g/dL. Namun, keputusan untuk mendapatkan transfusi bagi ibu hamil yang memiliki anemia tetap membutuhkan pertimbangan matang dengan memerhatikan kebutuhan pasien serta risiko dan manfaatnya.

Apabila dokter kandungan menilai anemia membuat kehamilan Anda berisiko tinggi untuk mengalami hemoglobinopati atau kehilangan darah banyak pada saat melahirkan (baik lewat normal atau caesar), dokter mungkin memutuskan untuk segera mencari donor darah yang sesuai untuk Anda.

Ibu hamil dengan kadar Hb sekitar 6-10 g/dL juga direkomendasikan mendapatkan transfusi darah segera apabila memiliki riwayat perdarahan postpartum atau gangguan hematologis sebelumnya.

Transfusi lebih dibutuhkan apabila anemia pada ibu hamil menyebabkan kadar Hb turun drastis hingga kurang dari 6 g/dL dan Anda akan bersalin dalam waktu kurang dari 4 minggu.

Target transfusi pada ibu hamil secara umum adalah:

- Hb > 8 g/dL
- Trombosit > 75.000 /uL
- Prothrombin time (PT) < 1,5x kontrol
- Activated Prothrombin Time (APTT) < 1,5x kontrol
- Fibrinogen > 1,0 g/l

Tetapi yang harus diingat, keputusan dokter buat melakukan transfusi darah nir semata-mata hanya dengan melihat kadar Hb Anda saja. Jika berdasarkan dokter kehamilan Anda stabil alias nir berisiko meski kadar Hb kurang menurut 7 g/dL, Anda nir memerlukan transfusi darah.

Selain itu, transfusi darah juga tidak sanggup dipandang menjadi solusi buat menghilangkan penyebab mendasar menurut kurang darah dalam bunda hamil ataupun memperbaiki dampak samping lainnya yg disebabkan oleh defisiensi besi.

Tips mencegah anemia pada bunda hamil
CDC merekomendasikan semua ibu hamil buat mengonsumsi suplemen besi sebesar 30 mg per hari sejak cek kehamilan pertama Anda untuk mencegah terjadinya kurang darah defisiensi besi.

Sementara itu, WHO serta Kemenkes RI merekomendasikan suplemen besi sebanyak 60 mg buat semua bunda hamil segera sesudah gejala mual dan muntah (morning sickness) berkurang.

Jangan lupa asupan folat sejak sebelum hamil, ya!
Meski kebanyakan kasus anemia pada mak   hamil disebabkan oleh defisiensi besi, beberapa mak   hamil jua rentan mengalami anemia dampak defisiensi asam folat.

Asam folat merupakan sumber gizi yg sangat krusial buat wanita hamil. Saat ini, suplementasi asam folat diwajibkan untuk semua ibu hamil karena kegunaannya yg membantu proses buatan DNA janin selama pada kandungan dan buat regenerasi jaringan tubuh ibu.

WHO dan Kemenkes RI merekomendasikan suplementasi asam folat sebanyak 400 mcg/hari sesegera mungkin semenjak sebelum Anda merencanakan kehamilan dan terus berlanjut sampai tiga bulan sesudah melahirkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar